Langsung ke konten utama
Contoh Sederhana "Pretelan" Sanad Hadis

Teks Hadis

باب ما جاء في فضل التوبة والإستغفار وما ذكر من رحمة الله لعباده
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، قَالَ: أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّالٍ الْمُرَادِيَّ أَسْأَلُهُ عَنِ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ، فَقَالَ: مَا جَاءَ بِكَ يَا زِرُّ ؟ فَقُلْتُ: ابْتِغَاءَ الْعِلْمِ، فَقَالَ: " إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَطْلُبُ، فَقُلْتُ: إِنَّهُ حَكَّ فِي صَدْرِي الْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ بَعْدَ الْغَائِطِ وَالْبَوْلِ وَكُنْتَ امْرَأً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ فَجِئْتُ أَسْأَلُكَ هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِي ذَلِكَ شَيْئًا؟ قَالَ: نَعَمْ، " كَانَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَوْ مُسَافِرِينَ أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ، لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ "

Ibnu Abi Umar menyampaikan kepada kami dari Sufyan, dari ‘Ashim bin Abi al-Nujud bahwa Zir bin Hubaisy berkata, “Aku menemui Shafwan bin ‘Assal al-Muradi. Aku bertanya kepadanya tentang mengusap kedua sepatu. Dia berkata, apa maksud kedatanganmu, wahai zir? Aku menjawab, mencari ilmu. Dia lalu berkata, “sungguh, para malaikat membentangkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridho dengan apa yang dia cari. Aku berkata, ada sesuatu yang membuatku bimbang tentang mengusap sepatu setelah buang air besar dan buang air kecil, dan engkau seorang sahabat Nabi SAW. Maka aku datang untuk bertanya kepadamu, apakah engkau mendengar beliau menjelaskan sesuatu tentang itu? Shafwan berkata, iya, “beliau memerintahkan kami ketika kami melakukan perjalanan atau menjadi musafir agar tidak melepas sepatu kami selama tiga hari tiga malam karena buang air besar, buang air kecil dan tidur kecuali jika berhadats besar (junub).”

Jalur periwayatannya adalah: Shafwan bin ‘Assal al-Murodiy - Zir bin Hubaisy - ’Ashim bin Abi al-Nujud - Sufyan - Ibnu Abi ‘Umar - Al-Tirmidzi.

Terkait penggunaan alur penyampai hadis (al-Tahammul wa shiyaghul ada’), hadis diatas menyebutkan dua kali “haddatsana” dan dua kali “an”. Dua kategori tersebut mendapat tempat ilmu dalam ilmu hadis.
Untuk haddatsana, Abdullah bin Wahab, kawan Imam Malik mengatakan: kalau aku katakana haddatsani, itu berarti aku sendirian ketika mendengar hadits dari orang alim, kalau aku katakana haddatsana, itu berarti aku bersama orang banyak (jama’ah sewaktu mendengarnya).
Sedangkan lafadz ‘an, yang dikenal dengan istilah hadits mu’an’an. Terdapat ikhtilaf tentang hadis mu’an’an, ada yang mengatakan bahwa hadis tersebut munqathi’ hingga jelas ittishal al-sanad, ada juga yang menyatakan bahwa hadis tersebut shahih dan jumhur ulama menghukumi muttasil dengan beberapa syarat. Menurut Imam Muslim ada dua; tidak adanya perawi mudallis, memungkinkan bertemu antara rawi satu dengan lainnya.
Dari penjelasan kedua kategori tersebut, yang mengacu pada ittishol al-sanad, maka penulis akan mencoba meneliti keterkaitan para perawi yang salah satunya ketersambungan antar guru dan murid.



1. Shafwan bin ‘Assal al-Muradiy

Nama lengkapnya adalah Shafwan bin ‘Assal al-Muradiy, beliau adalah dari kalangan Sahabat terkenal,  berasal dari bani al-Rabd bin zahir bin ‘amir bin ‘autsban bin zahir bin murad, beliau bertempat tinggal di kufah. Mengikuti 12 peperangan bersama Rasulullah Saw.
Beliau hanya mempunyai satu-satunya guru, yaitu Rasulullah Saw. Adapun murid-murid beliau, daintaranya; Abu al-Jauza’ Aus bin ‘Abdillah al-Raba’I, Hudzaifah bin Abi Hudzaifah al-Azdiy, Zir bin Hubaisy al-Asadiy, ‘Abdullah bin Salamah al-Muradiy, ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu al-Gharif ‘Ubaidullah bin Khalifah al-Hamdaniy dan Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf.
Terkait tahun lahir dan wafat beliau, peneliti belum menemukannya. Untuk kredibilitas beliau, ada beberapa pendapat ‘ulama hadis dan peneliti hanya menemukan di dalam aplikasi software Jawami’ al-Kalim, diantaranya: Abu Hatim al-Razi, Abu Hatim bin Hibban, Ibnu Hajar al-‘Atsqallani dan Imam Bukhori dan semuanya menilai beliau adalah termasuk kategori Shahabiy (Sahabat).


2. Zir bin Hubaisy

Nama lengkapnya adalah Zir bin Hubaisy bin Hubasyah bin Aus bin Bilal, kunyahnya adalah Abu Maryam dan Abu Muthorrif, keberadaan orang tua tidak dikenali identitas lengkapnya, hanya diketahui di zaman jahiliyyah,  beliau termasuk Qabilah al-Asadiy (Bani Asad),  bertempat tinggal di kufah.
Untuk tahun kelahiran dan wafat beliau, peneliti hanya menemukan tahun wafatnya, yakni di katakan oleh ‘Ubaid al-Qosim bin Salam pada tahun 81 H, akan tetapi hal ini terdapat khilaf ulama hadis, ada yang mengatakan 81, 82, 83.  sedangkan tahun kelahirannya belum ditemukan.
Adapun guru-guru beliau, diantaranya; Ubay bin Ka’ab, Khudzifah bin Yaman, Sa’id bin Zubair bin ‘Amr bin Nufail, Abi Wail bin Syaqiq bin Salamah, Shafwan bin ‘Assal al-Muradiy, ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, dan masih banyak lagi. Sedangkan murid-murid beliau, diantaranya; Ibrahim al-Nakho’iy, Isma’il bin Abi Kholid, ‘Ashim bin Bahdalah, ‘Amir al-Sya’biy, dan masih banyak lagi.
Pendapat ulama hadits tentang kredibilitas beliau:
Ishaq bin Mansur dari Yahya bin Ma’in: Tsiqah
Muhammad bin Sa’id menyebutkannya dalam Thabaqah 1 di kalangan tabi’in ahli kufah: beliau tsiqah dan banyak meriwayatkan hadis.
Dan peneliti menemukan pendapat lain dari aplikasi jawami’ al-kalim yakni ibnu hajar al-‘Atsqallani yang menyatakan: tsiqah jalil (jelas ke-tsiqohannya).


3. ‘Ashim bin Abi al-Nujud

‘Ashim bin Bahdalah adalah nama asli perawi, akan tetapi yang lebih masyhur / laqobnya adalah Ibnu Abi al-Nujud al-Asadiy, kunyahnya adalah Abu Bakar al-Muqri’, bertempat tinggal di kufah.
Informasi tahun kelahiran dan wafat beliau, peneliti hanya menemukan tahun wafatnya, yang dikatakan oleh Abi Bakar bin Abi al-Aswad yang meninggal pada tahun 127 H, dan data ini cukup sempurna dibandingkan khilaf ulama hadis yang mengatakan 128, 123, 124 bahkan dikatakan 181.
Adapun guru-guru beliau, diantaranya; Aswad bin Hilal, Harits bin Hassan al-Bakriy, Zir bin Hubaisy al-Asadiy, Ziad bin Qois al-Madaniy, dan masih banyak lagi. Sedangkan murid-murid beliau, diantaranya: Aban bin Yazid al-‘Atthar, Ibrahim bin Thamman, Sufyan al-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Sulaiman al-‘A’masy dan masih banyak lagi.
Terkait penilaian ulama hadis tentang beliau, diantaranya :
Muhammad bin Sa’d menyebutnya pada Thabaqah ke-2 dari ahli kufah, beliau adalah tsiqah.
Annasa’i menyatakan: laisa bihi ba’sun (tidak ada cacat padanya).
Abu Ja’far al-‘Uqailiy: tidak ditemukan kualitas haditsnya kecuali su’ul hifdzi (hafalannya jelek).
Addaruquthniy: Hafalannya sedikit.

4. Sufyan bin ‘Uyainah

Tentang Nama lengkap beliau, peneliti menemukan beberapa nama, diantaranya; merujuk pada kitab Tadzhib al-Kamal yang di dalamnya terdapat dua nama, yaitu Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran dan Maimun al-Hilaliy.  Dan satu nama yang peneliti temukan di makalah peneliti lain dengan rawi yang sama, yaitu Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Uyainah al-Hilaliy.  Peneliti juga menemukan nama beliau, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran Maimun al-Hilaliy.  Jadi, menurut hemat peneliti, bahwa nama lengkap beliau yang masyhur dan selektif adalah Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran, terkait Maimun al-Hilaliy hanyalah sebatas laqob. Di karenakan kepentingan menyebut nama lengkap, pada umumnya menyertakan nama ayahnya, dan di katakana bahwa ayah daripada Sufyan bin ‘Uyainah adalah Abi ‘Imran.
Beliau di lahirkan pada tahun 107 H,  menetap di kufah kemudian di mekkah.  dan wafat pada bulan rajab tahun 198 H.
Adapun guru-guru beliau, diantaranya; Ibrahim bin ‘Uqbah, Sufyan al-Tsauri, ‘Ashim bin Bahdalah, ‘Abdullah bin Thawus, dan lain-lain. Sedangkan murid-murid beliau, diantaranya; Muhammad bin Yahya bin Abi ‘Umar al-‘Adaniy, Muhammad bin Manshur al-Thusiy, Harun bin Ishaq al-Hamdaniy, dan lain-lain.
Adapun penilaian ulama hadis tentang beliau:
Ahmad bin Abdillah al-‘Ijliy: dia adalah orang kufah yang tsiqah dan teguh dalam hal hadis.
Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar pernah mendengan Yahya bin Sa’id beerkata: saksikanlah, bahwasanya Sufyan bin ‘Uyainah telah mengalami kacaunya pikiran (banyak kesalahan) pada tahun 197 H, maka barangsiapa yang mendengar haditsnya pada tahun itu dan juga setelahnya, hadits tersebut dianggap bukanlah apa-apa.


5. Ibnu Abi ‘Umar

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Yahya bin Abi ‘Umar al-‘Adaniy, beliau menetap di mekkah. beliau wafat di mekkah pada tanggal 11 dzulhijjah pada tahun 243 H.  Tentang kelahiran beliau, peneliti belum menemukan datanya.
Adapun guru-guru beliau, diantaranya; Sa’id bi Salim al-Qoddakh, Sufyan bin ‘Uyainah, ‘Abdullah bin Raja’ al-Makkiy, dan lain-lain. Sedangkan murid-murid beliau, diantaranya; Muslim, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lain-lain.
Penilaian ulama hadis tentang beliau;
‘Abdurrahman bin Abi Hatim pernah bertanya kepada ayahnya tentang Ibnu Abi ‘Umar, jawabnya: beliau adalah orang laki-laki yang sholeh, beliau adalah orang pelupa dan saya pernah melihat beliau meriwayatkan hadis maudhu’ dari jalur ibnu ‘uyainah, beliau termasuk orang yang jujur. Ibnu hibban menyebutnya dalam kitabnya “al-Tsiqaat


6. At-Tirmidzi

Nama lengkapnya adalah Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Sauroh bin Musa ibn al-Dhahhak al-Salamiy al-Tirmidzi, lahir di Termez  pada tahun 209 H. beliau adalah imam yang tsiqah dan menjadi hujjah.
Adapun guru-guru beliau, diantaranya; Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Musa, Sufyan bin Waki’, Muhammad bin Isma’il al-Bukhori. Sedangkan murid-murid beliau; Muhammad bin Ahmad ibn Mahbub al-Mahbubi, Abu hamid Ahmad bin ‘Abdillah al-Marwazi, Muhammad bin Mundzir bin Syikr.
Adapun penilaian ulama hadis:
Abu Ya’la al-Kholili: (tsiqah mutaafaqun ‘alaih) orang yang tsiqah, yang disepakati. Kesepakatan ulama hadis cukup diketahui seperti Muhammad bin Isma’il al-Bukhori juga mengambil hadis dari beliau.
Ibnu Hazm menyatakan bahwa beliau adalah majhul. Sejauh ini, kitab-kitab hadis yang cukup fenomenal dan sangat masyhur, yakni “Kutub al-Sittah”, yang di dalamnya juga terdapat kitab karya al-Tirmidzi, peneliti menganggap ibnu hazm kurang selektif dan teliti, beliau tergesa-gesa dalam menilai rawi. Salah satu ulama hadis yang tidak terima adalah imam al-Dzahabi yang menyatakan bahwa al-Tirmidzi adalah orang yang mempunyai kitab Jami’, beliau tsiqah dan tidak diterima pendapat ibnu hazm yang menyatakan bahwa beliau majhul.
Beliau wafat pada tahun 279 H, umur beliau adalah 70 tahun.


Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, dapat di tarik kesimpulan terkait ketersambungan antara guru dan murid, yakni tempat tinggal para perawi yang sangat logis ada ketetapan bertemu (tsubut al-liqa’) secara langsung. Shafwan bin ‘Assal; Kufah, Zir bin Hubaisy; Kufah, ‘Ashim bin Abi al-Nujud; Kufah, Sufyan bin Uyainah; Kufah kemudian berpindah ke Mekkah, Ibnu Abi ‘Umar; Mekkah, Al-Tirmidzi; Al-Haramain: Mekkah dan Madinah. Jadi, istilah ittishol al-sanad yang masuk dalam kriteria keshahihan hadis, telah dinyatakan lolos.
Dalam syarah kitab Jami’ Sunan al-Tirmidzi yaitu Tuhfah al-Ahwadz bi Syarhiha, di akhir hadis tersebut para mukhorrij, diantaranya; Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim mengatakan: “Shahih al-Isnad”.
Perkataan ulama hadis tentang shahih al-isnad bukanlah termasuk hadis shahih yang kriteria keshahihannya dilihat dari segi sanad dan matan. Hadis shahih al-isnad mencakup 3 syarat yang termasuk dari beberapa syarat  hadis shahih, diantaranya; ketersambungan sanad, keadilan perawi, dan kedhabitan perawi.  Maka, tampaklah bahwa hadis tersebut dari segi sanad mencapai kualitas yang bagus.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Politik Identitas Islam dan NKRI Bersyariah

Dalam peta dunia Islam, Indonesia kerap dikonstruksikan sebagai "pinggiran" dalam sejarah. Padahal, Indonesia termasuk negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, yaitu mencapai 251 juta (13% dari total populasi dunia).   Posisi Indonesia ini diikuti oleh India (150 juta), Pakistan (145 juta), Bangladesh (115 juta), Nigeria (94 juta), Turki (70 juta), dan Iran (70 juta). Potret demografis ini, menurut Riza Ul-Haq (2017: 216) , negara-negara yang berpenduduk Muslim di Asia memiliki potensi untuk menjadi kiblat baru Islam dalam skala internasional. Permasalahan yang muncul akhir-akhir ini, sekaligus tugas tersendiri, terutama di Indonesia , peluang untuk menjadi kiblat Islam di dunia masih belum bisa diterapkan.   Konsep Islam dengan jargonnya, " rahmatan lil 'alamin ", yang cenderung menebar kasih sayang tanpa memandang status perbedaan identitas, harus steril dari sikap intoleransi. Namun sayang, sebagaimana dapat dilihat dalam la...

Etika Ilmu

Etika Ilmu Pendahuluan Secara kodrati, manusia merupakan makhluk yang berpikir, ingin mengenal, menggagas, merefleksikan dirinya, sesamanya, Tuhannya, hidup kesehariannya, lingkungannya, asal dan tujuan keberadaannya, dan segala sesuatu yang berhubungan dalam kehadirannya. Aristoteles meyatakan dalam buku monumentalnya, Metaphysics (980a25), “ Every man has by nature desire to know ”. Karakter pola pemikiran manusia tentang keingintahuannya ( curiosity ) dalam segala hal merupakan suatu kewajaran, kenormalan, dan alamiah. [1] Dalam proses pencarian pengetahuan, manusia akan terus berpikir untuk mendapatkan suatu ilmu. Aristoteles mengatakan bahwa ilmu tak mengabdi kepada pihak lain. Ilmu digulati oleh manusia demi ilmu itu sendiri. Kegiatan berilmu merupakan kegiatan mewah yang menyegarkan jiwa. Orang dapat memperoleh banyak pengertian tentang dirinya dan dunia di sekelilingnya. Menurut paham Yunani, bentuk tertinggi dari ilmu adalah kebijaksanaan. Bersama itu terlihat s...